Selasa, 08 Oktober 2013

Cerpen Cinta - Tunggu Aku

Cerpen Cinta - Dalam sebuah karya Cerpen ini pasti anak muda yang senang dengan sebuah karya sastra yakni dengan Cerpen ini pasti mengenal dengan Cerpen dengan kategori Cerpen Cinta, ya memang saya akui bahwa Cerpen Cinta adalah sebuah Cerpen yang sangat digandrungi oleh remaja kita karena Remaja ini sangat ingin tahu yang namanya akan Cinta, Okelah dari pada ngomongnya tambah ngawur kita langsung saja untuk meresapi Cerpen Cinta dibawah ini.

Cerpen Cinta - Tunggu Aku
Cerpen Cinta - Tunggu Aku
TUNGGU AKU
Karya Afifah Atthahirah

Siang ini sinar matahari terasa amat terik, sinar terasa menembus celah celah kecil baju kemeja SMK ku. Ah “ingin rasanya aku menikmati segelas es jeruk buatan risma” khayalku terlalu tinggi, ahh perempuan itu selalu membayangiku, ia menganggap diriku sebagai sahabat nya tapi aku malah mempunyai perasaan lebih kepadanya.

Sepanjang perjalanan aku terus terbayang wajah manis nya “tapi mungkin kah?” tanyaku dalam hati. Sambil terus berjalan “apakah mungkin ia menerima perasaan ku apa adanya, dan apa mungkin ayah nya akan merestui hubungan ku dengan nya,” aku terus bertanya tanya, “ah.. mungkin ayah nya tak segan segan menendang ku dan mempermalukan aku di depan anak-anak rekan kerjanya” bantah ku juga dalam hati, “tapi, cinta itu kan butuh perjuangan” ucap ku terus bertarung dengan hati kecilku yang mulai putus asa, “ah ribet nya kalau sudah urusan cinta,” kata ku sambil terus berjalan menyusuri gang-gang kecil, sebentar lagi aku sampai di rumah, pernah suatu kali ibuku marah marah gara-gara aku minta uang untuk menonton di bioskop bersama Risma, hingga akhirnya aku memutuskan untuk bekerja setelah pulang sekolah, sempat beberapa kali aku melihat Risma sedang berjalan jalan dengan sepupu laki lakinya, ah mereka bagai pasangan kekasih paling serasi di dunia ini. Aku selalu iri melihat mereka begitu. “andai aku dapat memilikinya” batin ku setiap kali aku melihat mereka berdua, khayalan ku semakin meninggi namun semua harus tandas sekejap, dengar-dengar ia akan tunangan dengan pacar nya selulus SMK. Mimpi ku hancur.

Akhirnya aku sampai juga di depan rumah beratap seng seng yang sudah berkarat, dengan dinding-dinding terbuat dari rotan, di pekarangan di hiasi pagar pagar bambu setinggi lutut orang dewasa, dengan dililit oleh beberapa jenis tumbuhan berbunga yang menambah kesan indah namun amat sangat sederhana.
“biarlah kini rumah ku begini, toh saat ini aku masih beruntung memilikinya untuk tempat berlindung. dan merajut asa, suatu saat aku akan membangun istana lengkap dengan fasilitasnya” tekad ku dalam hati sambil memandangi rumah ku.

Seperti biasa sepulang sekolah aku langsung berganti baju, tak lupa ku bawa cangkul milik (almarhum) ayah ku yang telah lama meninggal karena penyakit asma nya, aku terus berjuang ku lakoni pekerjaan ayah ku, aku menjadi kuli bangunan sepulang sekolah, dengan modal tenaga untuk sesuap nasi untuk mengganjal perut yang terus minta diisi, tak mungkin aku hanya mengandalkan uang ibuku yang hanya berprofesi sebagai tukang cuci, beruntung aku sekolah mendapat bantuan dari sekolah, ya karena aku pintar aku mendapat beasiswa bahkan aku tak pernah di tagih untuk membayar uang buku, Ujian. Aku harus extra tenaga demi mendapat sepeser uang, hasil keringat ku. Uang itu untuk membiayai sekolah adikku, ia juga mendapat beasiswa namun ia tetap ditagih untuk membayar uang buku, ujian nasional, belum lagi kini ia harus menghadapi ujian nasional dengan paket yang berbeda ya ada 20 paket.. belum lagi keinginan ku yang harus ku tunda sementara, ya untuk perempuan itu.

Kelulusan pun tiba, aku menunggu-nunggu saat saat yang aku dambakan ini, segera kulihat hasil ujian ku di mading sekolah ku, banyak anak anak lain aku tak ambil pusing, langsung ku terobos saja.
“horrreee….. horeee, gueeee lulusss” ucap ku saat melihat hasil ujian ku yang berada di urutan ke 7 dari 50 siswa di kelas 12 ( A dan B), senang rasa nya aku sudah bebas dari yang namanya belajar, kini aku bisa fokus dengan job ku.

Selulus SMK aku mencoba mencari pekerjaan dengan ke juruan yang aku pilih di SMK dahulu. Saat pertama kali aku melamar pekerjaan di sebuah bengkel, aku di tolak mentah-mentah, aku tak putus asa, “tuhan masih memberi jalan” ucap ku sambil memegang kalung pemberian Risma. Kalung itu ia berikan kepada ku sebagai oleh oleh nya dari Amerika. Aku terus berjalan tak kuhiraukan berapa kali aku ditolak, aku banyak di tolak karena bengkel itu belum mau membuka lowongan kerja.

Siang terasa semakin terik, berkali kali kuregangkan dasi pada leher kemeja putih ku. Ku berjalan sambil membawa amplop coklat yang berisi surat lamaran kerja dan beberapa dokumen penting.
Aku berhenti sejenak di sebuah warung kecil, ku pesan segelas es seharga 500,
“Nih mas” ucap pedagang itu kepada ku sambil memberikan segelas es pesanan ku
“makasih bu,” balasku sambil sambil menerima segelas es itu
Segera ku seruput sedikit demi sedikit
“ahh… lega rasanya” ucap ku setelah menghabiskan segelas es itu, aku segera bangkit dan mengambil sekoin uang 500 dan pergi
“ah itu ada bengkel, aku coba kesana aja.” ucap ku sambil berjalan mendekati tempat itu
“permisi pak, apa disini ada lowongan pekerjaan” ucap ku saat melihat seseorang laki laki berjenggot panjang bewarna putih, wajah nya seperti seumuran ayah ku 4 tahun yang lalu.
“oh, kebutulan, mau ngelamar kerja ya?” tanya nya kepadaku
“iya, pak” jawab ku sambil tersenyum
“bisa saya lihat surat surat lamaran dan prestasi-prestasi?” tanya nya kepada ku
Aku segera menyodorkan amplop coklat yang ku bawa, ia menerimanya, tak lama setelah mempersilahkan ku duduk, ia masuk ke dalam rumah nya, lima menit kemudian ia keluar dari rumah nya sambil membawa baju berwarna merah dan amplop coklat punyaku.
“kamu saya terima” ucap nya sambil memberi baju yang ia bawa serta mengembalikan amplop punya ku
“yang bener pak?” ucap ku tak percaya
“iya” jawab nya singkat
“terima kasih, pak” ucap ku berterima kasih kepada laki laki yang ternyata namanya pak jayadi
Tak lama kemudian, aku segera pamit pulang setelah aku memperkenalkan nama ku.

Di tengah jalan aku bertemu dengan Risma, perempuan itu memberiku undangan, yang katanya undangan tunangan dirinya dengan pacar nya. Entah mengapa kepalaku terasa pusing sehabis mendengar nya. Setelah memberikan undangan itu kepadaku, ia pamit dan segera masuk ke mobilnya. Terlihat seseorang laki laki tersenyum kepada ku dari dalam mobilnya. Aku hanya membalas senyum nya dan berjalan pergi. Sesampainya di rumah aku segera merebahkan tubuhku di atas kasur yang tak empuk sedikit pun. Entah aku tak tau berapa lama aku tertidur.



“di… ardii, bangun udah maghrib” kata ibu sambil menggoyang-goyangkan bahu ku.
Aku yang merasa terganggu akhirnya terbangun dari tidur nyenyak ku.
“iya bu..” ucap ku sambil bergegas bangun dan mengambil handuk di dalam kamar.
“byurrr… byurrr.. segar…” ucap ku sambil terus mengguyur badan ku dengan air dalam bak mandi
“oh iya jam berapa acara nya ya?” tanya ku sambil meletakkan telunjuk ku di dagu.
Cepat cepat aku keluar dengan hanya memakai handuk yang menempel dari bagian pinggang hingga lutut ku.
“oh jam 10.” Kataku sambil menaruh undangan itu ke tempat nya semula.
“bu. tolong setrikain kemeja pemberian bapak ya” ucap ku meminta tolong kepada ibu yang saat itu juga sedang menyetrika baju milik pelanggannya
“iya taruh disini aja” jawabnya

Aku pun menaruh kemeja itu di samping ibu sambil menunggu aku membaca buku sambil tidur-tiduran di kamar. Angin malam terasa sepoi sepoi membuat mata ku terasa mengantuk dan akhirnya aku tertidur.
“ardi… ardi… ardi ”
“siapa yang manggil nama aku ya?” tanya ku heran “eh ngomong-ngomong aku ada dimana?” tanya ku lagi dalam hati
“risma… risma” aku terus memanggil nama perempuan itu
Teriakan perempuan itu semakin terdengar jelas saat aku mulai masuk ke dalam hutan yang amat gelap dan membuat ku merinding namun entah mengapa kaki ku terus berlari hingga akhirnya aku menemukan sumber suara, aku segera berlari mendekati tempat itu “risma… risma” aku terus memanggil namanya, namun entah mengapa di tempat itu, aku tak mendapati dirinya hidup. yang kudapat hanyalah jasad nya yang telah terbujur kaku. Ku peluk jasad wanita itu dan berkata “risma.. tunggu aku”.

Cerpen Karangan: Afifah Atthahirah
Facebook: Afifah Atthahirah & Afifah Aththiroh
Kenalkan Nama Ku Afifah Atthahirah, Follow Twitter Ku @ifah_999

Itulah Cerpen Cinta yang mungkin bisa menginspirasi anda untuk membuat karya atau menginspirasi anda untuk mengetahiu apa yang dinamakan Cinta dan APabila anda ingin membaca Cerpen yang lainnya seperti Cerpen Persahabatan silahkan saja datang ke mbah dukun. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar