Jumat, 13 Desember 2013

Cerpen Cinta Sedih " Surat Untuk Senja"

Berikut ini adalah sebuah Cerpen yang menurut saya menjadi sebuah inpirasi bagi saya karena dengan sebuah Cerpen ini banyak orang seakan menjadi sebuah tokoh dalam Cerpen Tersebut, Bagaimana dengan isi Cerpen Tersebut silahkan langsung saja untuk membacanya.
  

Cerpen Cinta Sedih " Surat Untuk Senja"
SURAT UNTUK SENJA
Karya Salman Achmad Perkasa

 Jam 2 pagi saat nada jangkrik berorkestra di taman. Elang serta Senja duduk diantara bangku-bangku yang kosong. Lampu taman yang melankolis menghangatkan dialog awal hari yang mereka kerjakan.
“Lantas apa gunanya kita berdiam lama di sini? Bukanya tambah baik kita pulang serta mengakhiri dialog pesakitan ini? ”
“Aku, di sini mengajakmu untuk berkontemplatif Elang.. ” jawabnya dengan suara lirih.
Elang tak tahu apa yang ditujukan oleh Senja, ia cuma dapat membenturkan ke-2 gigi atas serta bawahnya dengan kencang.
“Kau tak terasa berdosa atas seluruhnya kejanggalan yang berlangsung? ”
Elang seperti dibunuh melalui kalimat, ia terbius keadaan serta arti. Ia cuma dapat membenturkan ke-2 gigi atas serta bawahnya dengan cara kencang.
“Darah yang keluar dari telingaku, disebabkan tingkahmu, saya tak kuat mendengar semua perilaku burukmu. Seluruhnya orang diluar sana mengulas kebusukanmu! Kau hitam! Tak mempunyai moral! ”
Sebenernya kebusukan apa yang sudah diperbuat oleh Elang, Elang sendiri tak tahu. Ia cuma lakukan aktivitasnya seperti umum serta selayak orang normal.
“Senja…”
“Jangan sekali kali kau memanggil namaku melalui mulut kotormu itu! Saya tidak sudi dengan pangillan yang keluar dari mulutmu! ”
“Terus saya mesti memanggilmu apa? dengan sebutan ‘Eh’ seperti anak TK yang memanggil satu diantara rekanya namun tak mengetahui namanya? Atau mungkin dengan nama samaran lain? Kau ingin saya memanggilmu apa? Wanita pesakitan? Wanita senja? ”
Senja tersentak oleh kata kata Elang, ia memandangi Elang seperti orang yang mengakui suci walau sebenarnya tak sempat lakukan amal. Ia betul-betul geram pada Elang. Melalui tatapan matanya yang tajam, tergambar suatu pisau yang siap menancap dibagian mulut Elang.
“Kau tidak butuh memanggilku dengan sebutan anomali seperti itu, saat ini jujur saja kepadaku. Apa yang sudah kau perbuat pada gadis yang bernama Laras? ”
“Laras? Siapa Laras? ” Dengan raut muka datar ia menjawab
“Jadi kau betul-betul tak mengetahui dengan wanita yang bernama Laras? Bila demikian siapa itu Ana? Serta siapa itu Laila? ”
Senja selalu menghimpit Elang dengan pertanyaan yang makin memojokkanya ke poros yang lebih dalam, ia mau Elang mati didalam perkataanya.
“Ana serta Laila itu sahabatku dari SMA, memanglah ada apa dengan mereka berdua, saya jadi makin tak tahu perihal apa yang kita bicarakan. ”
Senja makin terpukul atas pengucapan Elang, ia terasa Elang menutupi dosa-dosanya dengan ketidaktahuanya serta kepolosanya.
“Lang, saya dapat mencium bau kebusukanmu dari dua hari kemarin. Saya tau apa yang kau perbuat dengan Ana, Laila juga Laras seorang yang kau anggap tidak kau ketahui. Mengapa kau tega menodai ke-2 wanita itu dengan sebagian rekanmu? Di mana hati nuranimu? Kau katakan Ana serta Laila teman dekat namun yang kau kerjakan kepadanya seolah mereka wanita jal*ng yang menyamar jadi teman dekat. ”
Elang terdiam, saat ini ia tak bisa membenturkan ke-2 gigi atas serta bawahnya.
“Bagaimana dengan laras? Mengapa kau tega menyebar deskripsi photo yang tidak layak? Apakah kau saat ini berpindah jadi orang yang jahat? ”
“Jadi kontemplatif perihal ini yang kau maksud saat ini? ”
“Ya memanglah ini yang kumaksud, supaya kau sadar dengan semua kesalahanmu yg tidak beretika. ”
“Kamu tak tahu bakal seluruhnya ini.. ”
“Tidak tahu? Maksudmu? Anda telah hilang ingatan? Pasti anda tak dapat mengontrol nafsu bir*himu, maka dari itu anda jadi liar dengan perilaku hewani seperti itu? Semestinya kau tak berkata bila saya tak tahu bakal seluruhnya ini, saya tahu apa yang ada di isi otakmu yang keruh lang. ” Jawab Senja sembari berteriak didepan muka Elang.
Elang cuma tertunduk serta tersenyum. Lalu ia mengangkat dahinya serta melihat ke arah depan, ia sesaat berhalusinasi seperti lihat orang tengah mati suri di taman.
“Kamu benar benar telah hilang ingatan Elang, saya tak menganggap kau dahulu yang saya cap untuk orang berpredikat baik nyatanya berkepribadian seperti serigala haus bakal mangsanya, kau mengikis kepercayaanku. ”

Lalu Senja pergi meninggalkan Elang sendirian di taman, ia memberhentikan suatu Taxi serta pulang ke rumah. Pas jam 3 pagi ia meninggalkan taman.

Dua minggu sesudah dialog awal hari itu, Elang bunuh diri dengan menggunakan kok*in sampai over dosis. Senja yang mendengar berita tak dapat berbahasa melalui mulutnya, ia cuma berbahasa rasa sedih melalui air matanya yang putih, ia selalu mengalirkan bhs rasa sedih itu hingga seseorang polisi datang ke tempat tinggalnya. Polisi itu memberikanya suatu surat, surat yang dituliskan Elang sebelum saat ia wafat, surat yang ditemukan di samping kok*in serta jasad dari seseorang Elang. Surat itu diisi perihal argumen Elang berbuat jahat pada ketiga wanita.
Lalu Senja buka surat serta membacanya, sembari menahan rasa sedih ia cobalah membaca satu per satu kata yang tercatat.

Dear Senja
Senja, maafkan saya sudah berbuat perbuatan kotor itu, barangkali sesudah engkau memperoleh surat ini kau tak bisa menjumpai saya lagi di alam dunia yang penuh dengan dialektis tak berbuntut seperti yang kita kerjakan sebagian hari kemarin di taman.
Saya cuma mau memberitahumu bila saya lakukan seluruhnya itu memiliki argumen masing-masing. Saya menodai Ana serta Laila lantaran ia selalu menghinamu untuk wanita miskin yang cuma dapat ju*l tubuh, ia selalu membicarakanmu untuk pr*muria yang tidak berakal selama hari. Jengah saya mendengar perkataanya. Hingga saya mesti mengambil jalan pintas sendiri dengan menodainya dengan sebagian rekanku, supaya ia paham mulut itu bukan hanya pengucap pr*muria belaka.
Bila Laila, lantaran ia yang sudah bikin orang tuamu bercerai 2 th. lalu, ia lah yang berselingkuh dengan ayahmu, jujur saya tak memberitahumu lantaran saya tidak kuasa lihat air mata di pipimu. Maafkan saya Senja atas seluruhnya ini, semoga anda tenang didunia sana lantaran saya sudah menghabisi seluruhnya penggangu kehidupanmu

Salam sayang Elang 

Bagaimana dengan Cerpen diatas, SHare atau LIKE jika Cerpen Tersebut sangat bermanfaat bagi anda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar